Barnel Kasyanti Sp, Perempuan Pertama Calon Walinagari Koto Laweh Kab. Solok

Solok, merapinews.

Konselasi pemilihan kepala daerah setingkat Bupati priode 2020-2025 di Kab. Solok, tidak hanya memunculkan fugur-fugur putra terbaik daerah itu. Juga pada saat hampir bersamaan ditingkat nagari juga melakukan pesta demoktasi pemilihan walinagari.

“Ada 54 nagari dari 74 nagari di Kab. Solok yang akan melakukan pesta demokrasi setingkat nagari di Kab. Solok”, sebut Asisten I Kab. Solok Edisar dt Manti Basa.

Dari 54 nagari yang kini tengah mempersiapkan diri pada pesta demokrasi yang akan berlangsung November 2019 mendatang. Umumnya dinominasi calon pria. Beda halnya dengan nagari Koto Laweh Kec. Lembang Jaya. Kab. Solok. Dari lima orang kandidat yang akan bertarung melalui pemilihan walinagari itu, satu diantaranya terdapat sosok seorang ibu.

Bisa jadi sosok sang ibu dua anak bernama Barnel Kasyanti Sp (50) mencalonkan diri. Karena ia sudah sangat memahami seluk beluk nagari yang akan ia pimpin. Jarum jatuh saja dinagarinya ia harus tahu, sebab pengabdianya pada masyarakat dalam satu dasawarsa (10 tahun) terakir tidak dapat dinafikan.

Sebagai petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) Kecamatan di Lembang Jaya. Kab. Solok. Barnel Kasyanti, setiap hari terus bergerak. Sudut-sudut rumah warga didaerah
tidak luput dari perhatianya. Ia sigi setiap rumah warga didaerah operasinya, mana tau ada warga yang mendapat musibah atau sakit. Kalau hal ini terjadi, tanpa komando ia langsung menyinsingkan lengan baju mencari solusi atas musibah yang menimpa warga masyarakat.

Kan?, tidak semua warga masyarakat pemilik BPJS. Nah bila ini terjadi, tugas ibu tunggal dua anak itulah yang mencari solusi. Bahkan ia tidak segan-segan berkoordinasi dengan berbagai elemen masyarat, termasuk dengan Bupati, anggota dan ketua DPRD, agar warga masyarakat yang tertimpa musibah itu bisa diselamatkan dari musibah yang menerpa mereka.

Tidak hanya mencari solusi atas peristiwa dan musibah yang dialami masyarakat. Ia sekaligus juga menjawab solusi itu. Itu ia buktikan dengan merawat 11 orang anak yang mengalami distabilitas.

Menjawab pertanyaan usai ia bertatap muka dengan ketua DPRD Kab. Solok Jhon Firman Pandu. Rabu 9/9 lalu. Ibu dua anak yang ditinggal oleh sang suami, setelah suami tercinta dipanggil sang Khalik tahun 2003 lalu, ia membanting stir menjadi pekerja sosial. Meski ia memiliki ijazah Sarjana Pertanian, namun ia lebih memilih jadi pekerja sosial, karena ia tidak tega melihat warga masyarakat mendapat kesulitan
“Hidup dikampuang serba sulit, kesulitan itu harus ada pihak ke – III yang harus memecahkanya”, tutur Barnel.

Menilik dari pengalaman 10 tahun menjadi pekerja sosial. Menurut Barnel, kita tidak bisa berada diluar sistim. “Kita harus berada didalam sistim. Sistim itu adalah menjadi pejabat pengambil keputusan, yaitu menjadi walinagari ditingkat bawah, minimal itulah solusi, kalau ingin membantu warga”, pungkasnya. (asroel bb)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*